membandingkan negeri di bawah kabut (the land beneath the fog) karya salahuddin siregar dengan jagal (the act of killing) karya joshua oppenheimer mungkin terdengar seperti usaha yang mengada-ada kalau tidak sia-sia. selain genre-nya yang sama-sama dokumenter, setting-nya yang sama-sama di indonesia dan judulnya yang sama-sama bilingual :p, rasanya tidak ada lagi hal yang sama atau mirip pun di antara kedua film ini. namun mari kita lihat lebih dalam lagi.

pertama-tama, jagal dan negeri di bawah kabut kedua-duanya dihantui oleh konsep abstrak yang namanya sendiri tidak pernah disebutkan sepanjang film. dalam kasus jagal, konsep abstrak itu, yang disebutkan berulang-ulang di review, op-ed, esei, tweets, status updates facebook yang membahas film ini, adalah impunitas. impunitas di sini berarti lolosnya para jagal ‘65 dari jeratan hukum, baik hukum formal maupun, kalau memakai bahasa berita-berita kriminal di majalah dan koran indonesia, hukum preman “diadili oleh masyarakat.” seperti kata adi zulkadry, salah satu jagal di film itu, “seperti diizinkan … kita bunuh orang, kita nggak dihukum.”

sementara itu, sebuah konsep abstrak juga menghantui negeri di bawah kabut (dan kehidupan karakter-karakter di dalam film ini). namanya juga disebutkan di diskusi-diskusi tentang film ini tapi tentu kita tidak mendengarnya sesering kita mendengar kata “impunitas” akhir-akhir ini: climate change. frase “climate change” tidak ada dalam kosa kata penduduk desa genikan di kaki gunung merbabu, yang berbicara memakai bahasa jawa smorgasbord yang susah dimengerti oleh orang jawa priyayi kauman macam saya. mereka cuma bisa bingung dan bertanya-tanya ketika kalendar jawa mereka yang biasanya akurat memprediksi musim tiba-tiba mulai meleset, panen mereka jadi gagal, dan kehidupan mereka jadi terancam.

kedua film ini berargumen bahwa negara berperan banyak untuk melestarikan hantu impunitas dan climate change. orde baru membagi kuasanya kepada jagal-jagal ‘65 seperti anwar congo di seantero nusantara, kuasa yang juga datang dalam bentuk uang (“bukan jadi gila, jadi kaya mereka,” komentar seorang teknisi TVRI medan tentang anwar congo & co), sehingga mereka mampu menjaga ketotalan impunitas mereka, baik dalam hukum, masyarakat, sejarah, maupun di dalam kepala mereka sendiri.

sementara itu, genikan menjadi saksi bagaimana pemerintah post-orba telah merusak kehidupan petani desa dengan di satu sisi mengimingi mereka dengan mimpi-mimpi indah kapitalisme seperti kredit murah motor tiger, sementara di sisi lain mengutuk mereka menjadi petani miskin tujuh turunan dengan membiarkan harga panen mereka terjun bebas dengan tidak memberikan proteksi sedikit pun terhadap jeratan-jeratan kapitalisme global (kita bisa melihat climate change sebagai salah satu efek jangka panjang dari kapitalisme dan revolusi industri sejak akhir abad 18).

negeri di bawah kabut tidak secara langsung (tidak selangsung jagal paling tidak) memberitahu penonton tentang peran busuk negara dalam menghancurkan kehidupan masyarakatnya. namun dengan sedikit pengetahuan umum dan kemampuan membaca ironi/reading between the lines, tentu kita bisa menyimpulkan bahwa harga wortel petani gendikan bisa terjun bebas salah satunya karena pemerintah selama ini telah tanpa ampun membanjiri pasar lokal di seantero nusantara dengan wortel impor. mereka juga tidak melakukan apa-apa untuk membantu petani membeli pupuk dan obat yang makin banyak mereka butuhkan karena iklim yang berubah, sehingga biaya produksi makin naik, sementara harga jual makin turun, dan keuntungan makin tipis, malah rugi!

dalam salah satu adegan paling menyindir tapi halus dan puitis ala jawa di film ini (i.e., jadi gampang kelewatan maksudnya :p), petani-petani gendikan menyewa mobil pickup untuk mengangkut hasil panen mereka ke pasar. jalan yang dilalui mobil itu masih jalan tanah bergelombang. salah satu dari petani itu menyeletuk, pemerintah dulu berjanji mengaspal jalan itu, tapi janji itu belum ditepati. penonton yang cermat akan diingatkan kepada adegan pemilu (pilkada?) sebelum adegan itu, waktu partai yang akhirnya menang (PDI-P?) berjanji akan mengaspal jalan itu tadi. satu-satunya andil pemerintah di gendikan adalah menebar janji kosong!

walaupun cara mereka berbeda—jagal dengan cara yang frontal, negeri di bawah kabut dengan cara yang halus, bahkan puitis—kedua film ini sama dalam satu hal: dua-duanya adalah sebuah j’accuse terhadap NKRI.

hal yang kedua yang menarik untuk diperbandingkan adalah format kedua film ini—dan reaksi penonton terhadapnya. keduanya adalah film dokumenter, namun dengan gaya yang sangat berbeda.

yang sering dibahas tentang jagal adalah muatan sejarah dan politiknya yang sangat serius dan mengerikan, namun ironisnya format film jagal justru berhutang banyak pada format bercanda mockumentaries. pertama kali menonton jagal, saya diingatkan kepada waiting for guffmann, mockumentary karya christopher guest, berformat “teater di dalam film” (atau film di luar teater?), mirip sekali dengan format “film di dalam film” (atau film di luar film?) di jagal. waiting for guffmann dinarasikan sebagai sebuah film doku(mocku)menter tentang proses pembuatan sebuah pertunjukan (mock) teater amatir yang distutradarai corky st. clair (diperankan oleh christopher guest) di sebuah kota red-neck udik di missouri, sementara jagal diceritakan sebagai sebuah film dokumenter tentang pembuatan film amatir “arsan & aminah” karya anwar congo & co (actual, real people di medan kota). kedua film ini, seperti layaknya mockumentaries, mentertawakan kebodohan tokoh-tokoh di dalamnya. dramatic irony berterbaran di mana-mana di kedua film ini. penonton sadar setiap kali herman koto (anak buah anwar congo) atau corky st. clair bertindak bodoh dan/atau egois dan/atau dua-duanya, tapi karakter-karakter itu sendiri tidak sadar, dan penonton pun tertawa, atau meringis miris.

di dekat akhir film jagal, anwar congo, yang menurut film ini mungkin sudah membunuh lebih dari 1000 orang dengan tangan sendiri, bertanya kepada joshua oppenheimer yang sedang mewawancaranya, “apa mungkin, saya itu sudah berdosa?” bukankah sebuah ironi yang mahabesar jika seseorang di negeri yang walaupun di bawah kabut tapi masih berketuhanan yang maha esa ini, masih juga bisa mempertanyakan ia sebenarnya berdosa atau tidak, lebih dari 40 tahun setelah ia membunuh beribu-ribu orang!?

waktu saya mengupload link trailer jagal dari youtube di wall facebook saya, beberapa teman saya dari luar indonesia yang akrab dengan format mockumentaries berkomentar, “wow, gotta see this, i can’t work out if it’s for real though,” dan semacamnya. yang ironis di sini adalah bahwa format yang dipilih joshua oppenheimer untuk menyajikan jagal—sebuah film non-fiksi yang menceritakan bagaimana pelaku-pelaku sejarah menciptakan fiksi tentang kehidupan mereka sendiri, dan yang ingin mengungkap bagaimana imaginasi mereka telah berhasil membuat mereka bingung sendiri mana yang fiksi dan mana yang non-fiksi—berhasil membuat penonton atau calon penonton bingung tentang batasan antara fiksi dan non-fiksi itu sendiri. format jagal ikut membantu menyampaikan argumen sutradaranya kepada penonton secara langsung, dengan membuat mereka bingung.

sementara itu, negeri di bawah kabut adalah sebuah film dokumenter bergaya fly-on-the-wall/cinéma direct yang menghilangkan kamera dari benak penonton dan seperti yang dijelaskan salahuddin siregar setelah pemutaran film ini di kineforum suatu siang beberapa bulan lalu, dari benak subyek film ini sendiri. ia dan kameranya (dan seorang soundman) telah tinggal begitu lama dengan para penduduk desa genikan, dan telah mengambil begitu banyak footage, sehingga para penduduk desa itu lama-lama sudah lupa mereka sedang difilmkan. sangat berbeda dengan jagal yang menjelaskan dengan eksplisit lewat teks di awal film (bukan di luar film itu sendiri—lewat wawancara dengan sutradaranya misalnya:)) bahwa film ini akan berisi hasil pendokumentasian kru film joshua oppenheimer atas proses pembuatan film arsan & aminah oleh kru film anwar congo & co. dalam jagal, penonton dibikin super-sadar akan kehadiran kamera, sutradara, dan “film (dokumenter)” itu sendiri dalam “kenyataan” yang dipaparkan di layar.

sampai-sampai seorang teman saya di facebook, sebut saja namanya anonimus :p, menulis status update, “kalau yang bikin jagal bukan bule, anwar congo & co. actingnya bakal lain nggak ya?” tidak perlu ngomong tentang kemungkinan jawaban pertanyaan ini dulu (walaupun di edisi khusus majalah tempo yang meniru jagal mewawancarai algojo-algojo ‘65 di tempat-tempat lain di indonesia (dengan wartawan yang non-bule, saya asumsikan), kita bisa melihat kalau kebanyakan algojo-algojo itu sama gung-ho dan antusiasnya menyombongkan kekejaman mereka). yang penting di sini adalah bahwa yang mendorong teman saya menulis status update ini (antara lain) adalah kesuper-sadarannya akan film jagal sebagai sebuah “film”, lengkap dengan kru dan segala tetek bengek perfilman yang lain, termasuk struktur narasinya. di dalam jagal sendiri, berkali-kali dipertontonkan alat-alat yang dipergunakan untuk membuat film arsan & aminah, dari clapper sampai kamera yang di satu adegan dikendarai oleh anwar congo sendiri, sebagai semacam verfremdungseffekt untuk mengingatkan penonton bahwa ada bangunan film dalam kenyataan yang sedang mereka tonton dan bahwa setiap penonton harus sadar akan efek dari bangunan film itu terhadap kenyataan yang dikemasnya.

sementara itu, di sesi wawancara dengan salahuddin siregar yang sudah saya ceritakan tadi, ada beberapa orang yang justru mempertanyakan ke-vérité-an (pun intended, im drawing a distinction between cinéma direct vs. cinéma vérité—hubungi @yuki_adityauntuk wiki entry lebih lanjut :p) film negeri di bawah kabut, yang setengah menuduh mempertanyakan apakah subyek di film dokumenter ini benar-benar subyek yang “pasif”, sekedar diobservasi, atau aktor yang diarahkan oleh si sutradara.

kita bisa menyalahkan diet film “dokumenter” penonton indonesia untuk pertanyaan-pertanyaan macam ini. mereka terlalu terbiasa dengan gaya “dokumenter” ala eagle award (lucunya, salahuddin siregar adalah salah satu finalis eagle award pertama di tahun 2005) yang harus mendeklarasikan dengan lantang ke-“dokumenter”-annya, ke-“non-fiksi”-annya, biasanya dengan (harus) adanya wawancara langsung dengan subyek menghadap kamera dan suara pewawancara di belakangnya.

namun yang penting di sini adalah bahwa dengan teknik narasi yang berbeda pun—bisa dibilang bertolak belakang dengan jagalnegeri di bawah kabut juga diragukan ke-“real”-annya oleh sebagian penonton. apakah memang benar keadaan di gendikan separah itu? dan kalaupun separah itu, apakah gendikan bisa menjadi mikrokosmos pengkorupsian negara kesatuan republik indonesia oleh pemerintahnya sendiri?

menurut saya, kesulitan sebagian penonton untuk menerima kenyataan yang disodorkan baik negeri di bawah kabut maupun jagal pada akhirnya tidak disebabkan oleh dilema teoretis dalam kepala mereka tentang mana yang lebih vérité—mockumentary atau documentary, cinema vérité yang memplot sebuah set-up bagi subyeknya (mempersilahkan anwar congo & co memproduksi arsan & aminah bisa dilihat sebagai set-up seperti ini) atau cinéma direct yang strictly observational—tapi lebih karena kenyataan yang disodorkan oleh negeri di bawah kabut maupun jagal kedua-duanya terlalu mengerikan.

jagal memaksa kita menerima kenyataan bahwa negara ini diperintah dan dibully oleh pa’-skip-pap-pa’ preman-preman yang tidak tersentuh hukum, sementara negeri di bawah kabut dengan puitis dan mengharukan membuat kita menyadari bahwa pem-bully-an ini tidak selalu berbaju loreng-loreng oranye, tapi juga bisa berkedok mimpi-mimpi indah kapitalisme (kredit motor tiger, DP hasil panen, bunga uang sekolah anak). kedua-duanya adalah j’accuse terhadap NKRI yang membuat penonton bingung dan takut menerima kenyataan yang memang sepertinya terlalu mengerikan.

insanity no time limit

transgressions in the midst 

of space knockoff

champs vintage henleys your 

miss-conceptions i wonder if

in Cape Town nothing

is as small as the rain.

a KFC bucket Ramadhan insurgence

lying on your back

the boot of a Holden Kingswood

a comet explodes

shattering colours your corona

moms creating an avalanche

of expectations childgoodhood

in extremis

a pond, a lake even, a river flowing

upwards no shitbox

a whole nation catering 

to whims roll call

multivitamins no energy drinks

i want to get us

to a savannah

a burning star the tip of your shoulder

tops.

aku ingin sekali dimengerti

namun yang bisa kulakukan

hanya menyalakan lampu teras

melambaikan tangan, kemudian sembunyi

fuck this dunia pura-pura dunia kura-kura setiap orang hanya ingin selamat sudah tak ada lagi yang puas dengan biskuit selamat fuck this bullshit ngomong tahu aja bilang beancurd why dont you shove a cart of shit-hot brain-brain up your pantat you embourgeoised world fuck you!

things change every day, leaves get yellower, jalans get bolonger, my tattoo is fading, but are the changes clockwise or anti-? everything depends upon a rainbow wheelbarrow and if we associate progress with a right or a left turn of the minute hand. i long for and fear the shanghai-ization of jakarta.

sumtimes methinks my progress as a poet (yakali) has been severely curtailed/put to a deadstop by my addiction to good conversations. ive met some amazing artists, dancers, poets, trapeze artists, and some of them are such boring conversationalists but they produce such amazing work! i feel only despair when later on i find their amazing work after thinking man, what a boring cunt, when trying to engage them in a conversation over beer/coffee/roti bakar. why do i put so much importance in having good conversations? its as if i feel there is something wrong in someone if s/he cant make me laugh/intrigue me. and it is as if id rather spend all my energy prepping for crazy conversations rather than working on my own art.

giggling from too little

non-EU christiania hasish

i missed my mark 

you

as i javelined

leftover smørrebrød

into a green rubbish bin

leaned a perfect something degree

for the greater comfort

of cyclists

wrapped in

aurora

contentment.

stockholm was

cold but

you

were colder

the picture of

health (first world)

i heard you accidentally

took pictures of the interior

of the darkrooms

at the berghain

(a couple were lying

bored out of their skulls

in a corner)

enlighten me.

under flaubert’s

large round table

in mahogany

i saw it

a kitty bowl

of arsenic.



annesmita:

we have nothing in common but surgery scars on our back

"It seems to me that the writers we love most are those who manage to capture something we ourselves have thought and rejected, for being forbidden, dangerous, elusive, something that if we made room for it would undo something else we want to keep, so we force it away—literature as a catalogue of rejected thoughts. For the way they can hold onto what the rest of us would put away as dangerous, they become heroes, the ones who emerge with the one thing we hoped to keep secret, but know we need."
— Alexander Chee