Saia, film terbaru Djenar Maesa Ayu, tidak seperti film2 Antonioni yang menanggalkan pakaian semua karakternya di menit pertama. Karena di menit pertama dalam Saia kedua karakternya (mungkin bernama Saya dan Ia) memang sudah tidak berpakaian. Yang menempel di tubuh dua aktornya — Harry Dagoe dan Djenar sendiri — hanya tato, lebam dan keringat.* Plot Saia simpel, sangat linear. Sepasang heterosexual menyewa holiday cottage dari bambu yang kelihatannya tidak terlalu murahan (sprei bersih, lampu meja bertutup kain kanvas putih a la Index Furniture, ada telpon), kemudian bercinta dengan berbagai macam gaya dengan jendela terbuka. Semuanya diabadikan oleh (mungkin) seorang voyeur dengan kamera digital dari kamar sebelah yang (kira2) berbentuk sama dari jendela yang juga terbuka (ada dua jendela, tembok di antaranya dengan lihai menyembunyikan penis Harry Dagoe sepanjang hampir 80 menit). Seperti holiday house mansion di film Salo Pier Paolo Pasolini, gubuk bambu Saia (perhatikan jumlah huruf yang juga sama dalam judul keduanya) juga bisa diinterpretasikan sebagai simbolisme sebuah eskapisme. Kalau orgy Pasolini adalah eskapisme ironis dari fasisme Il Duce (karena orgy untuk melarikan diri dari fasisme itu ternyata bukan cuma juga fasis tapi sadis dan masokis pula — poin satir hitam buku yang menginspirasi film ini, 120 Days of Sodom-nya Marquis de Sade, bahwa fas/sad-isme ada di dalam diri kita semua ke mana pun kita lari), gubuk Saia bisa juga diinterpretasikan menawarkan safe house dari fasisme Il Ba’asyir, Stormtroopers of MUI, dan kawan-kawannya. Kamera yang dipegang tangan dan kebanyakan diam (paling hanya bergerak dari jendela ke jendela, zoom in and out hanya kadang2) selain mengingatkan kepada kerja kamera dalam reality shows seperti Big Brother, atau isi video2 VHS misterius di film Hidden (Caché) Michael Haneke, atau channel2 sado masokis di klub Herosase dalam Pintu Terlarang Joko Anwar, juga mengingatkan kepada camera work primitif sutradara-sutradara 3gp** Indonesia yang karya-karyanya, seperti Saia yang diputar di antara kalangan sendiri secara setengah rahasia, juga menghuni space dan status setengah underground setengah mainstream di kaskus dan berbagai blog penyedia link-link mesum. Scene2 di film ini pun bisa dipilah2 berdasarkan fetish2 pornografi yang daftarnya sering ada di situs seperti youporn.com dan — versi Indonesianya — delthavideo.com: scene pertama blowjob, kedua swallow, ketiga foot fetish, keempat dildo, kelima BDSM, keenam (mungkin) rape, ketujuh (mungkin) snuff. Dan semuanya dibungkus dalam über-category MILF. Bedanya dengan menonton youporn atau mendownload video 3gp dari kaskus, kita tidak bisa memilih cuma menonton kategori yang kita suka. Selama 80 menit Saia bukan cuma mempersilakan penonton menjadi voyeur/peeping Tom/tukang ngintip tapi juga memaksanya untuk menikmati adegan2 yang mungkin tidak terlalu membuatnya ngaceng. Salah satu problem pornografi menurut mbah2 feminis serem Catherine McKinnon dan Andrea Dworkin adalah bahwa dalam proses produksinya aktor2 yg terlibat di dalamnya pasti dipaksa untuk melakukan hal2 yang sebenarnya tidak mereka inginkan. Pornography is rape. Sex is rape. Nah, Saia, dengan cara memaksa penonton menonton hal2 yang mungkin tidak ia sukai, telah membalik argumen ini. Gantian penonton — penikmat (mungkin) pornografi tadi — yang disiksa, yang diperkosa. Saia has turned pornography on its head! Lagipula, apakah Djenar sang sutradara benar2 bermaksud menceritakan ada voyeur di cottage sebelah yang sedang membidikkan Flip HD-nya ke tetek Djenar dan dada Harry Dagoe yang berbulu sekaligus bergelimang keringat? Atau gaya handheld camera work ini hanya point of view seorang sutradara Dogma yang sedang bercerita tentang exhibisionisme Saya dan Ia? Apakah sebagai penonton kita deg2an ikut mengintip atau me-ronta2 dipaksa untuk menonton? Di saat2 waktu camera tiba2 zoom/maju ke tetek Djenar atau dada bergelimang keringat Harry Dagoe dan terdengar lamat2 suara nafas yang berat (film ini tanpa dialog dan hampir tanpa suara sama sekali) — apakah ini suara karakter si Djenar (Saya atau Ia?) yang akhirnya kedengaran dari jendela yang terbuka, atau suara nafas si voyeur yang ikut terangsang/tegang? Jika pun tidak ada voyeur dan yang ada hanyalah kameramen si Djenar Von Triers, maka ini juga cara yang cerdik untuk menjebak penonton menjadi voyeur itu sendiri. Sepanjang film penonton melihat dua jendela yang terbuka mempertontokan dua orang yang sedang ngewi dan tidak terlihat ingin menyembunyikan tubuh atau kegiatan mereka berdua. Penonton tidak diberi ruang untuk mengalihkan pandangannya. Kebanyakan kegiatan mengintip kecuali di peep-show tentulah dilakukan sambil sembunyi (orang yang masuk ke dalam bilik peep-show pun sedang sembunyi di bilik itu dan bilik itu bersembunyi di naungan sex-shop, legalitas pornografi di Amsterdam, etc.), tapi Saia tidak pernah membiarkan penonton — kalau dipikir2 semua penonton film, bahkan yang bukan pornografi, adalah voyeur bukan? — the ultimate voyeur ini, untuk sembunyi! Ia terpaksa melongo di depan Saya dan Ia sampai film ini berakhir dengan sebuah adegan snuff movie, di mana salah satu dari Saya dan Ia mungkin mati atau pura2 mati dalam sebuah ritual sado masokis yang sangat terkontrol, dan sebuah twist*** yang awalnya bagi saya agak membingungkan tapi kemudian menurut saya adalah cara yang pintar untuk meruntuhkan kepercayaan kita bukan cuma tentang seks, pornografi atau moralitas, tapi juga tentang (si)apa itu menonton dan (si)apa itu ditonton.
*dalam percakapan dengan Djenar, ia bercerita bahwa badan Harry Dagoe sempat biduran selama shooting sehingga selain keringat tubuhnya juga bergelimang bedak cair Caladyn
**here’s a link to a 3gp file
***bagi yang tidak terganggu dengan spoilers silakan melanjutkan baca ke sini