Install this theme
Saia Lautan Api + Spoilers*

Jadi setelah Djenar (Saya/Ia) memecahkan kepala Harry Dagoe dengan lampu meja dan atau pura2 memecahkan kepalanya dengan lampu meja dalam permainan sado masokisme yang super rapi, Djenar (Saya/Ia) kemudian menutup kedua jendela di kamarnya untuk pertama kali. Kemudian kamera sempat mati (satu2nya change of scene selama film ini adalah waktu kamera (seakan2) sengaja dimatikan (mungkin oleh si voyeur) dan sekali waktu (seakan2) kamera mati karena kehabisan batere (lengkap dengan ikon batere hampir habis di layar kemudian scene kira2 tiga menit hanya layar hitam dan gambar ikon batere nge-charge di sudut kiri atas) sebelum dinyalakan kembali untuk mengambil shot dua jendela yang tertutup. Cukup lama. Setelah itu orang yang memegang kamera ini untuk pertama kalinya keluar kamar dan masuk ke dalam kamar dengan dua jendela tertutup tadi. Ternyata kamar kosong dan sudah rapi diberesi. Si pemegang kamera kemudian balik lagi ke kamar yang satunya, meletakkan kamera di kasur (tetap on), kemudian duduk di depannya. Siapa? Ternyata karakter yang dari tadi dimainkan Djenar sendiri (Saya/Ia). WTF??? Begitu pun reaksi saya pertama kali. Tapi karena saya terlatih menonton Dexter, otak forensik saya pun mulai bekerja dan saya menyadari bahwa setelah Djenar menutup jendela kemudian kamera mati, kita tidak pernah diberi tahu secara pasti apakah setelah kamera dihidupkan lagi kemudian menunjukkan lagi dua jendela yang tertutup, apakah dua jendela itu adalah dua jendela di kamar Saia dan Ia tadi. Bisa saja dua jendela yang tertutup itu adalah jendela di kamar di mana si voyeur tadi berada, diabadikan oleh kamera lain yang dipegang karakter yang dimainkan Djenar (Saya/Ia) tadi dari kamarnya sendiri.** (Setelah membuang mayat Harry Dagoe dan atau menyuruhnya mandi.) Sehingga mungkin dari tadi si (mungkin) voyeur tadi ternyata bukan voyeur sama sekali tapi sesama eksibisionis yang memang diminta untuk mengabadikan Saya dan Ia ber-youporn ria sepanjang hari. Dan kali ini seharusnya giliran karakter yang dimainkan Djenar untuk mengambil gambar si sesama eksibisionis di kamar sebelah (entah lagi ngapain dan atau sama siapa). Dan mungkin selama ini mereka sudah saling membuat berbagai macam versi Saia dalam sebuah festival eksibisionisme yang sudah berlangsung ber-hari2 (120 days?). Efek twist ini sadis juga (sadis di sini dipakai dalam arti “hebat”, “gokil” seperti yang sering dipakai anak gaul Jakarta circa 2009), karena jika selama ini penonton mengidentifikasikan dirinya sebagai voyeur dengan segala macam problem moralnya (zina mata, objektifikasi seks/tubuh/perempuan/Harry Dagoe), itu adalah salah penonton itu sendiri. Karena ke-voyeur-an itu ternyata adalah fetishisme kita sendiri yang mungkin lama kita repress dan sembunyikan tapi ternyata hanya menjadi moral baggage yang kita bawa ke mana2 termasuk waktu kita menonton Saia. Kita telah memproyeksikan voyeurisme kita sendiri kepada seorang karakter di dalam film yang sebenarnya hanya seorang maniak seks eksibisionis. Tentu hal yang terakhir ini punya relevansi yang sangat besar dalam dunia Indonesia sekarang. Saia mungkin ingin bilang bahwa fatwa Stormtroopers of MUI untuk menge-ban Suster Keramas, misalnya, hanya refleksi bahwa para stormtroopers itu memang terobsesi dengan onani sehingga mereka begitu mengidentifikasikan keramas dengan mandi junub. Dan Saia mengatakannya dengan cara yang jauh lebih menarik dan kompleks daripada moralis2 dan atau filsuf2 Twitter. Tapi selain itu mungkin Saia juga sedang berbicara tentang/menyentil hal yang jauh lebih besar daripada sekedar hipokrisi moral: menonton film (porno maupun bukan) itu sendiri. Jika kita menonton Avatar 3D misalnya, tentu kita tidak punya tanggung jawab lain selain bayar tiket dan mengembalikan kacamata 3D setelah film selesai. Tapi, menonton Saia kita, seperti si sesama eksibisionis tak bernama tadi, justru dituntut untuk menandatangani sebuah perjanjian justru untuk menanggalkan kacamata apapun yang tadi kita pakai. Moral, seksual, tekstual, struktural — you name it. Kita boleh menonton, dipersilakan, tapi kita juga dituntut untuk menonton bagaimana kita sendiri menonton Saia, untuk membiarkan diri kita — seperti yang telah dilakukan dengan lapang dada (insert own Harry Dagoe dada bergelimang keringat joke here) oleh Saya dan Ia — menjadi obyek yang ditonton juga.

*ini adalah lanjutan dari ini

**mungkin Djenar memberi hint dengan celana dalam Harry Dagoe yang terjepit di daun jendela waktu ia menutupnya. Kalau pas kamera dinyalakan lagi menunjukkan dua jendela yang tertutup tanpa celdal Harry Dagoe nyempil di situ berarti mungkin sekali sudut pandang film memang sudah berubah dan dua jendela itu memang jendela di kamar si (mungkin) voyeur tadi. Kalau ada celdal yang nyempil? Berarti semua jadi lebih membingungkan lagi dan argumen2 saya patah semua hehehe. Tapi saya tidak ingat ada atau tidak ada celdal Harry Dagoe di adegan itu. Perlu nonton lagi.

 
Blog comments powered by Disqus